PPDB

PPDB
Klik Sini

Header Ads

Header ADS

Antara Mimpi Dan Kenyataan ( Chapter 2 )


    Dalam dunia informasi modern yang serba cepat, kita sering dihadapkan pada tantangan untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Salah satu cara paling sederhana untuk memverifikasi suatu informasi adalah dengan mencari sumber-sumber berbeda yang membahas hal yang sama. Jika informasi tersebut konsisten dari beberapa sumber terpercaya, kita bisa menyimpulkan bahwa informasi tersebut mendekati kebenaran. Namun, verifikasi paling akurat sebenarnya adalah melihat langsung dengan mata kepala sendiri, meskipun ini sering kali sulit dilakukan.

    Setelah kita yakin bahwa informasi tersebut benar adanya, pertanyaannya adalah: apa manfaatnya bagi kita? Pertama, tentu saja informasi tersebut menambah wawasan kita. Kedua, jika informasi tersebut relevan dengan pekerjaan atau kehidupan kita, maka hal itu dapat menjadi masukan yang sangat berguna. Ketiga, informasi tersebut mungkin tidak berguna secara langsung, namun tetap membentuk perspektif kita terhadap dunia.

    Namun, apakah kita benar-benar peduli tentang kenyataan informasi yang kita terima setiap hari? Di era media sosial, mungkin banyak dari kita tidak lagi memisahkan mana yang nyata dan mana yang tidak. Banyak orang lebih fokus pada kesan atau dampak emosional dari informasi atau konten yang mereka konsumsi, tanpa memikirkan apakah konten tersebut mencerminkan kenyataan. Misalnya, kita tertawa saat melihat video lucu, ikut marah saat melihat sesuatu yang provokatif, atau merasa pintar saat mendengarkan podcast. Padahal, apa yang kita lihat hanyalah sekumpulan gambar dan suara yang dihasilkan oleh perangkat elektronik di genggaman kita. Bukan peristiwa nyata yang sedang terjadi di hadapan kita.



    Mengapa hal ini terjadi? Karena secara alami, otak kita tidak selalu mampu membedakan antara emosi yang muncul dari kejadian nyata dengan emosi yang dihasilkan oleh gambar atau video. Rasa marah yang kita rasakan saat menonton video menjengkelkan bisa sama kuatnya dengan rasa marah saat kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan secara langsung. Media sosial dan konten digital adalah miniatur dari kenyataan, di mana peristiwa yang sebenarnya terjadi dipadatkan dalam format visual dan audio yang cepat dan mudah dikonsumsi.

    Padahal,video adalah miniatur kenyataan dimana peristiwa yang sebenarnya dilipat dan dipadatkan ukurannya sedemikian rupa. bukan peristiwa yang terjadi sebenarnya. Meski ada video yang benar-benar menggambarkan kenyataan, seperti liputan berita atau tutorial memasak, banyak juga konten yang tidak memiliki referensi nyata, seperti animasi Naruto atau One piece atau video-video hiburan lainnya. Sayangnya, kebanyakan dari kita menerima semua bentuk konten tersebut tanpa menyaringnya. Kita tidak melakukan klasifikasi antara kenyataan yang sebenarnya dan kenyataan maya. Akibatnya, emosi kita sering kali dimainkan oleh berbagai konten yang kita konsumsi, karena secara otomatis kita menganggap semuanya nyata. Kita mungkin merasa marah atau sedih melihat suatu video, padahal apa yang kita lihat hanyalah representasi dari peristiwa, bukan kenyataan itu sendiri.

    Fenomena ini seperti saat kita bermimpi, jika kebetulan kita mengalami mimpi buruk dikejar setan misalnya. kita akan beneran ketakutan dan berkeringat dingin serta kelelahan … kemudian terbangun. ; ah .. ternyata itu hanya mimpi.  

    Nah. mungkin seperti itu bayangan sayidina Ali ..saat kita hidup , kita merasakan takut yang sangat pada masa depan, pada masalah, pada utang,pada atasan kita atau apapun itu. kita beneran berkeringat dingin ketika menghadapi masalah besar atau keadaan yang sangat memalukan. dan kita juga beneran merasa kelelahan saat mengejar impian dan ambisi-ambisi kita…. kemudian kita mati . ; ah … ternyata itu hanya mimpi !!! 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.